Sebuah Cerita Tentang Babugois; Si Manusia Kelas Pekerja
Saya menyesali diri saya kenapa saya harus bersekolah dan berkuliah setinggi ini yang padahal saya tahu bahwa semuanya adalah kesia-siaan yang akan saya rasakan di akhir nantinya. Ombak dan pikiran saya terlalu besar sekali untuk saya pikirkan lebih lanjutnya. Saya malas sekali untuk bergerak dan maju lagi karena saya sudah merasakan kalau semuanya adalah kesia-siaan saja. Saya seperti berjalan sendirian dan anginnya semakin tinggi yang rasanya saya tidak tahu apa yang ada di atas sana. Kepala saya rasanya pusing dan saya tidak tahu bagaimana nantinya saya akan tumbuh dan berkembang lagi. Tiap kali saya merasakan sesak yang tiada taranya saya hanya memikirkan bahwa diri saya adalah sesuatu hal yang rasanya tidak mungkin dan saya rasanya tercekat dan ingin mati terus menerus tanpa tahu bagaimana nanti pada akhirnya.
Saya berasal dari kelas pekerja tetapi saya bersekolah degan para kelas menengah ke atas yang mana jiwa saya hampir-hampir terguncang karena saya tahu apa yang saya lakukan pada ujungnya adalah menerima kekalahan demi kekalahan. Sekeras apapun saya bekerja dan sekeras apapun saya berusaha rasanya saya tertinggal jauh sekali dari teman-teman saya yang memiliki support sistem dan keluarga berada; saya bahkan tidak tahu bagaimana saya akan hidup di masa depan karena saya miskin lagi piatu dan tentunya akan menanggung biaya orangtua saya di masa depan karena ia sudah tua dan tidak bisa bekerja dan tidak memiliki apapun lagi untuk diperjuangkan.
Melihat semua kenyataan ini adalah pahit untuk saya - yang rasanya sudah lama saya berusaha bahkan saya terus belajar setiap harinya dan tidak pernah merasakan apapun yang dirasakan oleh manusia-manusia yang berkelas di sana. Kenapa dunia tidak begitu adil? Kenapa tuhan membiarkan semua ini? Kalau memang tuhan ada dan adil kenapa tuhan memberikan perasaan yang teramat menyakitkan untuk saya yang terlahir miskin dan tidak tahu akan makan apa di keesokan harinya? Tuhan, kali ini saya tidak lagi percaya akan keberadaanmu karena kemiskinan ini terlalu mencekat saya dan saya hampir-hampir mati karena kemiskinan yang teramat menyakitkan ini.
Ketika saya bercerita tentang kemiskinan saya kepada para pemuka agama mereka hanya menasehati saya untuk bersabar dan percaya dengan karuniaMu, ketika saya bercerita kemiskinan saya ini kepada para kaum terpelajar saya hanya dijudge bahwa saya sama sekali tidak berusaha dan belajar keras maka dari itu saya masih miskin dan menderita seperti sekarang ini dan ketika saya bercerita pada pemegang kekuasaan mereka hanya tersenyum mengangguk seakan-akan tahu bagaimana kemeskinan itu yang padahal mereka habis-habisan menilap dan mengambil semuak uang pajak kami dan juga segala hal yang seharusnya bisa kami nikmati ini.
Lantas saya harus bercerita kepada siapa lagi selain para kelas bawahan. Kuli, pekerja serabutan yang rasanya hanya sama-sama memiliki pemikirian seperti halnya apa yang saya pikirkan dan rasakan. Kami mengharap dunia ini tanpa kelas-kelas yang menyekat-nyekat satu sama lain dan menimbulkan ketimpangan yang begitu terlihat. Ini tidak adil untuk dunia yang seperti ini dan ini sama sekali tidak bisa saya nalar dalam dimensi apapun itu.
Kepala saya pusing dan kerap kali saya ingin mati ketika mengigat kemiskinan ini; kenapa pula saya harus dilahirkan ditengah-tengah kemiskinan yang tiada hentinya ini? Ayah dan ibu saya miskin, nenek dan kakek saya miskin, kakak-kakak saya juga miskin dan mereka melahirkan anak-anak yang mungkin akan menjadi miskin juga. Kenapa dunia ini begitu kejam untuk orang-orang miskin seperti kami? Seperti dunia ini tidak lagi memiliki apapun tentang kebahagiaan orang-orang miskin. Kalau saja dunia tanpa kelas pastilah yang bekerja lebih keras yang akan hidup bahagia; bukan yang mempunyai privilage, pemengang kekuasaan dan yang paling pintar yang memiliki segalanya.
Manusia terlalu serakah untuk mengumulkan uang dan makanan untuknya dan keturunanya di masa depan yang jelas-jelas tidak tahu sampai kapan ia hidup dan bagaiman ia akan hidup. Saya benci manusia serakah yang seperti itu. Saya benci kemiskinan dan kelaparan pada perut-perut kami yang tiap-tiap malam sungguh keroncongan meminta makan dan diisi yang bahkan kami tidak tahu dari mana dan apa yang mengisi perut-perut keroncongan ini selain air yang mengalir keruh di depan rumah kami itu; sebuah kali yang baunya apek yang biasa kami rebus kalau-kalau kami sudah tidak mampu lagi membeli air bersih untuk minum. Kenapa pula ai di negri ini diperdagangkan dan dikelolah oleh para pemiliki modal dan para orang-orang kaya? Bukankan itu sebuah sumber air yang seharusnya bisa dinikmati oleh setiap manusia saja tanpa kelas dan memihak? Bagaimana mungkin saya bisa hidup di negara yang kesemuanya miskin dan segala sumber daya alamnya yang seharusnya bisa diambil sebagai sumber makanan kami tetapi malah dikelolah dan diakuisisi oleh para kaum-kaum borguose itu?
Dimana sebah kemanusia yang pernah saya baca di perpustakaan-perpustaakaan kumuh pingir kali yang dibangun oleh para manusia-manusia yang sempat baik dan peduli pada kami itu? Kalau-kalau semua sumber daya alam di kelolah oleh kaum pemilik modal lantas kami harus hidup dengan apa? Apa yang akan kami makan untuk kelangsungan hidup? Apakah hidup semenyeramkan ini dan kenapa pula saya lahir untuk merasakan kemiskinan dan kelaparan setiap hari?
Saya bahkan sudah bekerja siang malam; membanting tulang, mengucurkan keringat, membaca buku-buku lepak di perpustakaan apek tetapi rasanya semunya teramat menyakitkan dan sangat tidak masuk akal untuk saya pahami lagi tentang kebebasan dan penderitaan ini. Entah otak saya yang tidak bisa berpikit tentang dunia yang normal atau memang manusia-manusia itu sudah lebih dulu menyerah dan tunduk kemudian dibentuk oleh keadaan dan tidak mau sama sekali melawan apapun; karena melawan sama dengan menyerahkan segalanya kepada penguasa dan mereka yang akan menghabisi manusia-manusia yang melawan tanpa gelar dan status; kebanyakan perlawanan akan menghilangkan dan menenggelamkan kami yang hanya rakyat jelata yang setiap harinya perut kami kosong dan kami tidak tahu besoknya mau makan apa.
Kami memang hanya angka yang rasanya sama sekali tidak berguna jika sudah berhubungan dengan penguasa dan pemilik modal. Kami yang tak lain dan bukan adalah hanya para pekerja yang diambil dan diperas habis-habisan tenaganya dan akan dibuang setelah kami tak bertenaga lagi dan kami akan hilang ditelan zaman ang kemudian pada zaman yang akan datang akan muncul lagi manusia-manusia macam kami yang akan merasakan perasaan tercekat yang hampir mati dan diam tanpa bersuara karena tidak tahu suaranya ada di mana. Akan terulang terus menerus sampai pada akhirnya kehidupan itu tidak menyisakan apapun selain kesedihan, kesengsaraan dan kemelatran yang seperti kami rasakan ini.
Kami bahkan tidak perlu membunuh diri kami sendiri karena pada akhirnya kemiskinanlah yang akan membunuh kami sendiri dengan perlahan dan kami akan mati dalam kemelaratan yang tidak pernah disorot dan hanya menyisakan hal-hal yang hening tetapi teramat sangat menyakitkan untuk dijalan dan di katakan. Tetapi inilah yang ada; fakta tentang dunia yang tidak akan pernah seimbang dan dunia yang selamanya mungkin akan tetap menyakitkan jika tidak ada perubahan kelas dan pemegang modal.
Kami hanya seengkok badan yang terisi nyawa yang disebut manusia yang sama sekali tidak dimanusiakan oleh para manusia-manusia yang mengaku berkuasa, berpangkat dan pura-pura berpengetahuan dengan bergelar-gelar tak berujung yang diseremonialkan pada intitusi-institusi yang katanya nertal dan mengabdikan pada masyarakat namun nayatanya memeras habis-habisan keringat para orangtua-orangtua dengan memberikan iming-iming kesuksesan di masa depan yang nyatanya semua adalah bentuk dari bagaimana pemilik modal dan manusia tak beradap bekerja; selalu menindas habis-habisan manusia-manusia yang ada di bawah dan terus akan menindas sampai pada akar-akarnya yang tak tersisa satupun nantinya. Begitulah mereka bekerja sekarang ini.
Comments
Post a Comment